Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Monday, September 27, 2010

Buffett: Resesi AS belumlah berakhir

Jakarta, Strategydesk - Miliuner Warren Buffet mengatakan ekonomi AS masih dalam resesi karena masih banyak orang dan bisnis yang kondisinya belum sebaik ketika sebelum krisis finansial.
Buffett mengatakan hal itu dalam wawancara dengan CBCB yang ditayangkan semalam. Pandangan Buffett itu berlawanan dengan pandangan lembaga bernama NBER yang mengumumkan resesi resmi berakhir pada Juni 2009.
“Secara logis, rata-rata orang Amerika masih berada di bawah kondisi normal, dalam hal pendapatan riil,” kata Buffett. Kita masih dalam resesi, dan belum bisa keluar darinya dalam waktu dekat, namun kita akan bisa,” tambahnya.
Buffett mengatakan NBER menggunakan definisi yang berbeda. Menurutnya, AS akan tetap dalam  resesi sampai PDB per kapita riil kembali ke level normal. Definisi resmi resesi yang digunakan ekonom adalah pertumbuhan negatif PDB selama dua kuartal berturut-turut.
Di awal 2008, Buffett adalah salah satu dari orang pertama yang mengumumkan resesi telah dimulai, berdasarkan pandangannya bahwa sebagian besar orang Amerika menghadapi kesulitan ekonomi.
Buffett juga menilai kondisi ekonomi melalui kinerja anak perusahaan Berkshire, yang bergerak di bidang pakaian, asuransi, furniture, perhiasan dan jasa jet korporat. Ia mengatakan bisnis membaik tapi dalam tingkat yang lambat.
Ia yakin ekonomi akan pulih melalui upaya pemerintah untuk merangsangnya digabungkan dengan kemampuan regeneratif kapitalisme AS.

Friday, August 27, 2010

Mengelola Keuangan Keluarga

Uang seringkali menjadi penyebab terjadinya perceraian. Perselisihan mengenai keuangan bisa saja terjadi disaat uang melimpah maupun disaat kekurangan uang. Masyarakat Indonesia merasa risih bila harus membicarakan masalah keuangan dalam keluarga. Oleh karena itu kami merasa perlu untuk terus menyerukan kepada semua kalangan masyarakat terutama pasangan suami istri untuk belajar saling terbuka mengenai keuangannya masing-masing. Kami sangat percaya bahwa setiap orang memiliki pandangan mengenai uang yang berbeda-beda karena suami atau istri dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Kegagalan dalam membicarakan soal uang di dalam keluarga berpotensi menimbulkan permasalahan.

Banyak orang merasa bahwa membicarakan keuangan dalam keluarga adalah tabu. Namun menurut hemat kami, hal ini malah seharusnya dibicarakan. Kalangan ini pernah berpikir, Apakah dengan membiarkan persoalan keuangan dalam keluarga belarut-larut akan menyelesaikan segalanya? Atau bisa menjadi bola salju yang terus membesar? Persoalan kecil bisa menjadi besar bila tidak diatasi dan diselesaikan dengan bijak. Oleh karena itu dalam hal keuangan keluarga sangat dibutuhkan sebuah pola pengelolaan dimana masing-masing individu di dalam keluarga (suami dan istri) memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Dengan pembagian tanggung jawab serta diskusi yang mendalam dapat meringankan persoalan yang mungkin timbul di masa depan.

Berikut ini ada tiga tipe pengelolaan yang bisa Anda pilih sesuai dengan keinginan Anda bersama pasangan Anda. Tentunya masih banyak lagi pola pengelolaan yang ada. Hal terpenting disini adalah saling keterbukaan serta menjalani kehidupan keluarga dengan tanggung jawab bersama.

1. Uang bersama dan Sistem Amplop
Penghasilan suami istri langsung digabung bersama. Setelah itu, gabungan kedua pendapatan langsung dialokasikan ke pos-pos pengeluaran rutin yang telah dihitung lebih dulu. Lazimnya, setiap pos diwakili oleh satu amplop. Pos-pos pengeluaran itu, pada beberapa keluarga, bukan saja kebutuhan rumah tangga makan minum, dan listrik saja, tapi juga termasuk membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, asuransi dan kebutuhan mobil (bensin, servis berkala, kerusakan, dan lain-lain). Bahkan tabungan, pengeluaran pribadi ayah-ibu dan liburan pun jadi amplop tersendiri. Bila ada sisa, dimasukkan ke dalam tabungan suami atau istri, atau khusus membuka lagi account bersama di bank untuk "menampung" sisa amplop setiap bulannya.












2. Membagi Berdasar Persentase

Bentuk manajemen ini adalah membagi tanggung jawab dalam bentuk jumlah atau persentase Seluruh kebutuhan keluarga setiap bulan dihitung termasuk pos darurat dan pos tabungan. Masing-masing sepakat menyumbang sebesar jumlah tertentu untuk menutupi kebutuhan tersebut. Sisanya digunakan sebagai tabungan pribadi untuk kebutuhan pribadi. Misalnya, istri membeli parfum, lipstik, atau baju. Bisa juga tanpa menghitung kebutuhan keluarga terlebih dahulu, suami-istri memberi kontribusi yang sama berdasarkan prosentase. Misalnya 80:20. Artinya, masing-masing “menyetor” 80 persen dari gajinya. Sisa 20 persen disimpan untuk diri sendiri. Jika bisa berhemat, dari uang bersama yang 80 persen, bisa tersisa untuk tabungan keluarga, di samping suami dan istri juga masing-masing punya tabungan pribadi.

3. Membagi Tanggung Jawab


Misalnya, suami mengeluarkan biaya untuk urusan “berat”, seperti membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, kebutuhan mobil, dan asuransi. Sementara bagian istri adalah belanja logistik bulanan, pernak-pernik rumah, jajan, dan liburan akhir pekan dan pos tabungan. Dilihat dari jumlahnya, suami menanggung lebih banyak dana. Tapi istri juga punya peranan dalam kontribusi dana rumah tangga. Kalau ternyata istri yang memiliki pendapatan lebih besar, tentunya hal ini juga bisa dilakukan sebaliknya.

Mana yang terbaik? Hal ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan tentunya kesepakatan antara suami dan istri. Diskusikan hal ini dengan pasangan masing-masing, agar persoalan keuangan keluarga bukan lagi menjadi masalah dalam keluarga.

Kalau istri tidak bekerja? Bagaimana?


Ketiga contoh diatas merupakan pola alokasi dari pendapatan suami dan istri. Dimana suami dan istri bekerja dan menghasilkan pendapatan secara regular setiap bulannya. Bagaimana pula bila hanya suami atau istri yang bekerja? Sedangkan pasangan yang lainnya tinggal di rumah?

Bila hal ini yang menjadi pola keuangan di keluarga Anda tentunya akan sangat baik bila Anda dan pasangan Anda membicarakan tugas serta tanggung jawab masing-masing. Mungkin Anda sebagai suami karena bekerja yang berusaha memenuhi semua kebutuhan keluarga. Sedangkan istri yang tinggal di rumah bertanggung jawab dalam hal rumah tangga, mulai dari persoalan belanja regular bulanan sampai alokasi tabungan (dari pendapatan suami) untuk berbagai macam tujuan keuangan keluarga yang dimiliki. Dalam hal ini istri harusnya seperti manejer dalam sebuah perusahaan.

Dengan membagi tanggung jawab bersama, suami tidak lagi merasa lebih dibandingkan istri. Karena kedua individu dalam keluarga tersebut memiliki tanggung jawab masing-masing. Untuk itulah keterbukaan dan diskusi mengenai keuangan menjadi sangat dibutuhkan.

Tiga hal penting dalam mengelola keuangan bersama


Pertama, pembagian kerja sangatlah dibutuhkan dalam hal mengatur keuangan. Contoh singkatnya, siapa yang membayar semua kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Misalkan Anda sebagai istri yang harus membayarnya maka suami dalam hal ini harus mentransfer dana yang cukup setiap bulannya untuk memenuhi semua kebutuhan keuangan keluarga.

Bila Anda memutuskan untuk mendelegasikan satu orang untuk membayar semua tagihan bulanan keluarga maka hal penting yang harus diperhatikan adalah kejujuran. Dimana Anda berdua haruslah terbuka satu dengan yang lain berkenaan dengan permasalahan uang. Jangan sampai bila Anda menggunakan rekening bersama dan salah satu dari Anda mengambil dana dalam jumlah besar dan tidak mengatakan kepada pasagan Anda. Begitu pasangan Anda membutuhkan untuk hal yang sangat penting ternyata dan yang tersedia tidak mencukupi.

Kedua, pengeluaran yang disepakati menjadi sangat vital. Anda berdua harus mencapai kata sepakat dalam merencanakan pengeluaran. Hal ini biasanya berkaitan dengan pengeluaran yang tidak tetap, misalkan keputusan untuk mengganti mobil dengan yang baru setelah beberapa tahun? Atau apa yang Anda berdua pikirkan berkenaan dengan liburan? Sebagai kesimpulan, Anda harus membicarakan dan bersepakat dalam kebutuhan yang harus dipenuhi, apa yang menjadi keinginan bersama dan apa yang dapat Anda penuhi.

Hal terakhir
yang menjadi sangat penting adalah menabung. Dalam hal ini visi kedepan menjadi sangat penting. Dimana dengan tujuan yang Anda dan pasangan tentukan akan memberikan motivasi serta pemilihan strategi yang dapat membantu Anda mencapai tujuan masa depan yang dimiliki. Dengan begitu Anda juga akan melihat pentingnya pengalokasian dana saat ini dan dimulai saat ini juga.

Demikianlah ulasan singkat seputar uang dalam kaitannya dengan hubungan suami istri di dalam keluarga. Semoga memberikan masukan dan tambahan ilmu bagi Anda.



















Mengatur Keuangan Sepanjang Masa


Perjalanan kehidupan kita di dunia pasti akan melalui fase-fase berikut, mulai dari masa kanak-kanak, dewasa, tua, pensiun dan akhirnya meninggal. Umumnya, setiap fase memiliki tujuan keuangan yang berbeda.

Diagram di bawah ini merupakan fase yang umum dilalui oleh manusia. Setiap individu pasti memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain. sehingga kita sebagai individu harus melihat dan merencanakan perjalanan dalam fase kehidupan kita masing-masing dengan baik dan benar sesuai dengan jalan hidup yang kita inginkan.

Kalau melihat diagram siklus kehidupan di atas, tentunya semua kita dilahirkan dan pada satu masa kita akan kembali ke Sang Pencipta. Selama perjalanan kehidupan, umumnya kita akan melalui fase-fase seperti di atas, fase anak-anak—masa lajang—masa awal pernikahan ”masa orang tua”masa pensiun dan akhirnya kita kembali dipanggil oleh Maha Kuasa.

Usia kita dalam melalui fase diatas akan sangat beragam. Ada yang masuk fase awal pernikahan diusia 20-an tapi ada juga yang sudah memasuki usia 30 tahunan.

Dalam kaitannya dengan usia, kami ingin sedikit memberikan gambaran perencanaan bagi mereka dalam beberapa kelompok usia mulai dari usia 20 tahunan mulai dari fase masa lanjang sampai fase awal pernikahan.
Kemudian, usia 30-40 tahunan, masa orang tua. Usia 50 tahunan masuk ke dalam fase masa tua dan masa pensiun. Setiap kelompok usia memiliki ciri umum perencanaan yang dibutuhkan.

Pentingnya Perencanaan di Usia 20 Tahunan

Banyak orang tidak melakukan perencanaan di usia 20, mereka merasa masih memiliki waktu panjang nantinya. Nikmati saja dulu, padahal dalam masa ini perlu kiranya kita membangun kebiasaan yang baik berkaitan dengan keuangan, misalnya dari sisi pengeluaran dan kebiasaan menabung. Kebiasaan ini tidak datang begitu saja, harus dilakukan secara berkesinambungan.

Mempelajari perihal anggaran dan investasi menjadi topik penting yang perlu dipahami, di saat Anda masih berusia 20 tahunan.

Kalau saja mereka memahami konsep nilai waktu uang dan konsep bunga berbunga, tentunya mereka tidak akan dengan seenaknya menghabiskan uang hasil kerja kerasa selama satu bulan hanya untuk keperluan sesaat.

Dalam konsep nilai waktu uang dan konsep bunga berbunga, semakin panjang waktu yang dimiliki tentunya akan semakin sedikit tabungan yang dibutuhkan setiap bulannya untuk mencapai target tujuan yang sama. Atau dengan nilai investasi yang sama dan asumsi tingkat bunga sama, hasil dari investasinya akan semakin besar bila Anda melakukanya dalam waktu yang lebih panjang.

Sebagai contoh, kita gunakan tiga simulasi, yang pertama Andi saat ini berusia 25 tahun, Tuti 35 tahun, dan Anto 45 tahun. Masa pensiun bagi mereka adalah diusia 55 tahun.

Lihat perkembangan investasi yang mereka lakukan setiap bulan sejumlah Rp 1 juta dengan tingkat suku bunga 8%. Dalam kehidupan nyata, pajak berpengaruh dan menurunkan jumlah keuntungan yang bisa Anda peroleh.(lihat tabel)

Jelas terlihat dari tabel di atas, bahwa waktuk adalah faktor eksternal yang tidak bisa kita hindari, tapi dari sisi waktu, bila Anda memiliki kemauan tentunya Anda dapat melakukannya lebih cepat, yaitu di usia Anda 20 tahun.

Menetapkan Tujuan Keuangan Jangka Pendek, Menengah, dan Panjang

Menetapkan tujuan keuangan spesifik merupakan langkah awal terpenting dalam proses perencanaan keuangan. Di usia 20 tahunan, tujuan jangka pendek yang umum adalah menyiapkan biaya pernikahan, membeli mobil atau motor, dan masih banyak lagi tergantung dari setiap individu.

Yang terpenting di sini adalah tujuan yang ingin dicapai 3-5 tahun ke depan. Jangka menengah antara 5-10 tahun, umumnya adalah membeli rumah, menyiapkan biaya pendidikan anak dana lain-lain. Nah untuk tujuan jangka panjang adalah masa pensiun. Persiapan ini sebaiknya dilakukan sejak dini.

Dari semua tujuan keuangan yang Anda miliki perkirakan berapa besar nilai tujuan tersebut dan dengan nilai tersebut berapa nilai tabungan yang harus diinvestasikan secara regular setiap bulan yang harus disisihkan. Untuk perhitungan ini pernah kita bahwa secara detail di ulasan yang lalu.

Pentingnya Memahami Konsep Investasi

Masyarakat sering tergiur dengan berbagai tawaran yang secara akal sehat tentunya akan sangat sulit untuk didapatkan, misalkan kasus PT. Qsar yang banyak merugikan masyakarat.

Satu kata kunci dalam berinvestasi adalah tidak ada investasi tanpa risiko. Semuanya ada risiko. Yang terpenting adalah mengenali risiko tersebut dan apa yang bisa dilakukan untuk menguranginya.

Hukum investasi yang tak bisa dihindari adalah semakin tinggi ekspektasi tingkat keuntungan, semakin tinggi pula risiko. Kita perlu mempelajari berbagai alternatif investasi dari sisi keuntungannya tapi jangan lupa juga perihal risikonya.

Keseimbangan keduanya menjadi tujuan kita semua. Strategi investasi menyebar dana di berbagai instrumen investasi adalah langkah bijak dalam memaksimalkan keuntungan dengan risiko yang terukur, strategi ini dikenal dengan sebutan diversifikasi.

Setalah Anda memahami dasar-dasar investasi dan mempelajari kelebihan dan kekurangan masing-masing instrumen yang terkait dengan keuangan Anda, mulailah untuk menginvestasikan dana secara regular untuk mencapai tujuan keuangan yang telah Anda tetapkan.

Evaluasi Perencanaan Menjadi Keharusan

Di usia 20-an tentunya Anda sudah menyelesaikan pendidikan Anda dan bekerja di sebuah perusahaan yang Anda inginkan.

Penghasilan pun sudah diterima setiap bulannya. Begitu Anda memasuki usia 30 tahunan, biasanya secara karier Anda sudah mulai mapan, walau mungkin Anda masih akan berpindah pekerjaan sebelum Anda pensiun.

Rasanya di usia ini Anda sudah berkeluarga. Hal ini tentunya akan mengubah berbagai prioritas keuangan yang sebelumnya tidak masuk dalam perencanan selama masih bujang, misalkan biaya pendidikan, liburan bersama keluarga, membeli rumah dan lain-lain.

Oleh karenanya, begitu keluarga sudah menjadi prioritas Anda, tentunya Anda harus mengevaluasi kembali tujuan keuangan yang telah ditetap dahulu. Perubahan ini harus dilakukan karena tentunya Anda harus mempertimbangkan hal lain dalam menetapkan tujuan keuangan keluarga.

Di rentang usia 30-40, Anda harus terus mengevaluasi berbagai investasi yang telah Anda lakukan untuk mencapai tujuan keuangan jangka menengah dan panjang. Merevisi anggaran juga harus dilakukan agar tetap sesuai dengan perubahan yang terjadi di keuangan keluarga.

Begitu Anda berkeluarga, prioritaskan untuk memiliki berbagai proteksi, mulai dari kematian, sakit, critical illness, dan lainnya agar risiko ini tidak merusak kondisi keuangan keluarga yang sudah baik.

Biaya Pendidikan Anak dan Masa Pensiun

Dalam rentang usia ini (30-40) tentunya, Anda harus sudah melaksanakan persiapan biaya pendidikan anak. Biaya pendidikan semakin hari semakin mahal saja. Dari pemantauan kami, peningkatakan pertahunnya jauh lebih besar dari tingkat inflasi, terutama berkaitan dengan uang pangkal. oleh karenanya sangat bijak untuk mulai sejak dini untuk menyiapkan biaya pendidikan buat anak-anak Anda.

Saat ini di Indonesia, banyak orang beranggapan bahwa dengan adanya Jamsostek dan program pensiun yang diberikan oleh perusahaan sudah cukup. Perhitungkan dulu.

Dalam banyak konsultasi yang kami lakukan, ternyata kedua hal ini tidaklah cukup sehingga dibutuhkan langkah yang tepat untuk menabugn atau investasi secara mandiri untuk mencapai kehidupan masa pensiun yang Anda inginkan. Jamsostek merupakan awal dan Anda tetap harus bertanggung ajwab lebih besar untuk menyiapkan masa pensiun yang Anda inginkan.

Apakah Anda Akan Mendapatkan Apa yang Diinginkan?

Waktu pun berjalan, dan sekarang Anda memasuki usia 50 tahun. Dari sisi investasi kami menganjurkan agar alokasinya lebih moderat, yang tadinya sebagai besar di saham mungkin hal ini sebaiknya dikurangi dan dipaindah ke instrumen investasi yang lebih rendah risiko.

Di usia ini, harapannya anak-anak sudah mulai besar dan dapat menghidupi kebutuhannya sendiri. Anda sekarang dapat lebih fokus pada persiapan masa pensiun yang Anda inginkan. Di usia ini sebaiknya Anda mulai menghitung apakah kebutuhan penisun yang Anda inginkan dapat terpenuhi dengan berbagai inevstasi yang telah Anda lakukan.

Semua ini harus diperhitungkan dan dianalisis apakah Anda akan defisit atau surplus selama masa pensiun Anda? Perhitungan ini sangat penting dilakukan karena Anda sudah dekat dengan masa pensiun Anda dan bila ternyata dana yang saat ini sudah terkumpul tidak mencapai apa yang Anda harapkan—defisit—alokasikan lebih besar dana untuk tujuan pensiun tersebut. misalkan, tadinya hanya 15% dari gaji yang dialokasikan untuk tujuan ini, sekarang Anda tingkatkan menjadi 20% atau malah 25%. Menurut hemat kami, hal ini dimungkinkan bila anak-anak sudah bisa mandiri dan Anda memiliki kapasitas untuk menabung lebih besar.

Demikian ulasan yang bisa kami sampaikan untuk artikel kali ini, bagaimana? Apakah Anda sudah merencanakan keuangan Anda? Sudahkah Anda mengevaluasi berbagai tujuan yang sudah Anda tetapkan sebelumya? Sekarang, apakah tujuan Anda sudah tercapai? Bila defisit, tingkatkan alokasi dana untuk tujuan tersebut. semoga bermanfaat.

Muhamad Ichsan, ChFC, MsFin
Sumber Pembelajar.com

Sunday, August 22, 2010

Komponen Sepeda Ala Yogyakarta

Suhendra - detikFinance
Foto: Hendra/detikFinance
Yogyakarta - Diam-diam kota gudeg Yogyakarta menyimpan potensi industri komponen produk sepeda sport. Industri kecil menengah (IKM) di wilayah yang juga mendapat julukan kota pelajar ini mulai melirik penciptaan nilai tambah dari industri pengolahan logam.

Adalah Bambang Cahyono salah satu IKM produsen komponen sepeda merek CMAXI di wilayah Nitikan, Umbulharjo sudah setahun terakhir membuat komponen sepeda sport untuk pasar after market. Hasilnya lumayan, menggembirakan, setidaknya sudah ada 47 komponen sepeda sport telah berhasil ia produksi.

Langkah Bambang tak terlepas dari peranan Unit Pelayanan Teknis (UPT) yang dikembangkan oleh Disprindagkoptan Yogyakarta bersama kementerian perindustrian.

Melalui UPT tersebut Bambang bisa menyewa peralatan berteknologi tinggi tanpa harus membelinya, seperti alat uji kekuatan material dan lain-lain.

"Saya pilih komponen sepeda karena lebih menjanjikan, kalau komponen motor sudah jenuh," ujar Bambang saat ditemui di UPT Logam Disprindagkoptan Yogyakarta, akhir pekan ini.

Bambang menjelaskan beberapa tahun lalu ia hanya memproduksi kuali masak, namun dengan mempertimbangkan nilai tambah yang kecil, ia beralih menjadi produsen komponen sepeda.

"Kalau produksi kuali harga per kg Rp 30.000, tapi dengan dibuat bahan kuali itu jadi komponen sepeda nilai tambahnya semakin besar 1 ons Rp 22.000," imbuhnya.

Saat ini meski baru hanya beromset Rp 50 juta per bulan dengan produksi 1500 unit komponen per hari. Produk komponen sepeda sport CMAXI telah mampu menembus pasar after market komponen sepeda di Jakarta, Bandung, Denpasar dan lain-lain.

Ia optimis dengan pemasaran yang makin berkembang industri komponen sepeda sport asal Yogyakarta ini bakal terus diterima pasar. Apalagi harga dan kualitas yang ditawarkan cukup menjanjikan, misalnya komponen adaptor brake hanya dijual Rp 60.000 per unit.

"Dari harga komponen impor lebih murah sampai 20%," katanya.

(hen/epi)

Tuesday, July 6, 2010

Bapepam: Sukuk Korporasi Dalam Negeri Masih Rendah

Jakarta - Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mencatat perkembangan sukuk korporasi di Indonesia masih sangat rendah. Jika dibandingkan dengan total penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang mencapai Rp 20,5 triliun di semester I-2010, sukuk korporasi baru mencapai Rp 700 miliar.

Demikian diungkapkan oleh Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany dalam seminar bertajuk "Potensi Pengembangan Sukuk Korporasi di Indonesia" di Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (06/07/2010).

"Perkembangan sukuk korporasi di Indonesia agak lambat, justru yang maju itu sukuk yang diterbitkan pemerintah atau SBSN. SBSN sampai dengan semester I-2010 sudah 20 sukuk yang diterbitkan dengan total Rp 20,5 triliun, sedangkan korporasi masih rendah yakni Rp 700 miliar ada 3 sukuk korporasi," papar Fuad.

Fuad menjelaskan, jika dibandingkan tahun sebelumnya memang penerbitan sukuk sudah menunjukkan perkembangannya. "Semester I-2009, sukuk korporasi mencapai Rp 476 miliar dan SBSN Rp 11,5 triliun. Memang ada kenaikan tapi cenderung lambat," tutur Fuad.

Jika dibandingkan dengan penerbitan sukuk global, Fuad mengatakan penerbitan sukuk di Indonesia masih sangat sedikit sekali. "Tahun 2008, tercatat ada 121 penerbitan produk syariah dari sukuk global sebesar US$ 16,7 miliar atau setara dengan Rp 160 triliun. Kemudian di 2009 meningkat secara signifikan, terdapat 750 penerbitan global mencapai US$ 32 miliar," jelasnya.

Kemudian, lanjut Fuad, pada semester I-2010 terdapat 348 penerbitan sukuk global dengan mencapai US$ 21 miliar. Fuad menuturkan, Bapepam akan terus mendorong mengembangkan sukuk korporasi melalui aturan-aturan yang sesuai dengan prinsip syariah. Karena memang berdasarkan pengalaman krisis, produk syariah tidak berdampak signifikan.

"Potensi sukuk masih sangat besar kita akan terus mendorong produk tersebut, sampai di even G-20 saja di mention dan disebutkan produk syariah harus dikembangkan. Karena syariah itu terhindar dari financial bubble," jelas Fuad.
(dru/ang) detikFinance

Saturday, June 12, 2010

Kesepakatan G-20 Modal Bank Diperkuat, Lembaga Pemeringkat Diawasi Ketat

Wahyu Daniel - detikFinance


Jakarta - Pertemuan para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara anggota G-20 sepakat untuk memperkuat standar permodalan perbankan, serta mengawasi ketat lembaga pemeringkat kredit.

Demikian disampaikan oleh Kepala Biro Humas Kemenkeu Harry Z. Soeratin dalam siaran pers hasil pertemuan G-20 di Busan, Korea yang dikutip, Sabtu (12/6/2010).

"Dalam upaya reformasi sektor keuangan, G-20 menyepakati untuk meningkatkan transparansi dan penguatan neraca bank serta tata kelola perusahaan dari lembaga-lembaga keuangan. G-20 juga berupaya untuk memperkuat standar permodalan dan likuiditas perbankan," tuturnya.

Upaya penguatan permodalan perbankan ini disepakati akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan setelah situasi perekonomian mulai membaik.

Selain itu, G-20 juga menyepakati pengawasan dan pengaturan terhadap lembaga pemeringkat kredit serta Over The Counter Derivatives harus ditingkatkan.

"Terkait isu perlakukan akuntansi, G-20 menyepakati diperlukannya suatu standar akuntansi yang bersifat global dan meminta lembaga akuntansi internasional terus meningkatkan upaya perbaikan standar akuntansi," kata Harry.

(dnl/dnl)

Kenaikan Harga Elpiji 12 Kg 'Direstui' Pemerintah

Foto: Istimewa
JAKARTA (KRjogja.com) - Meski ditentang sejumlah asosiasi pengusaha, rencana kenaikan harga elpiji nonsubsidi oleh PT Pertamina (Persero) tetap didukung pemerintah.

Alasannya, kenaikan harga elpiji ini sepenuhnya merupakan aksi korporasi Pertamina dan tidak terkait dengan subsidi pemerintah.

"Memang, bila ini makin lama ditunda kenaikannya, kelihatannya makin berat bagi cashflow (arus kas) Pertamina," ungkap Menteri BUMN Mustafa Abubakar saat konferensi pers di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (11/6).

Mustafa mengatakan, Pertamina memang sudah berkonsultasi terkait rencana kenaikan harga elpiji nonsubsidi ini kepada Pemerintah dan DPR, namun belum ada kesepakatan kapan dan berapa besaran kenaikan harga elpiji itu nantinya.

"Kami belum sampai pada kesepakatan kapan kenaikan elpiji ini (diberlakukan). Tapi yang jelas mereka sudah konsultasi dengan kami dan DPR, tinggal nanti tunggu waktunya saja yang tepat, besarannya berapa, dan skala kenaikannya. Itu nanti kami serahkan kepada Pertamina," lanjutnya.

Seperti diketahui, pada Juli mendatang Pemerintah juga berencana untuk memberlakukan kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Dengan rencana kenaikan harga elpiji dalam waktu dekat ini tentunya juga akan dianggap memberatkan masyarakat.

Namun pemerintah tampaknya tetap bersikukuh menyerahkan keputusan rencana kenaikan harga elpiji ini kepada Pertamina. "Jadi, kami sudah bersepakat dengan Pertamina untuk menaikkan harganya pada saat timing (waktu) yang tepat," tandasnya.(okz/yan)

Thursday, June 10, 2010

SBY: Utang Luar Negeri Harus Berkurang

GbJakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan agar APBN 2011 tepat sasaran. Jumlah utang luar negeri harus dikurangi agar anggaran pemerintah makin sehat.

"Ingat, policy kita mengurangi utang luar negeri. Mari kita usahakan ke depan utang luar negeri makin kecil, dengan demikian makin sehat kita punya APBN," tegas SBY saat membuka sidang paripurna kabinet di Kantor Presiden, Jalan Veteran, Jakarta, Kamis (10/6/2010).

SBY mengingatkan, pada anggaran 2011, inefisiensi anggaran di pemerintah pusat dan daerah harus dihilangkan. Presiden meminta anggaran lebih dialokasikan untuk kepentingan rakyat kecil, bukan justru menambah beban yang tak perlu.

"Saya minta kepada saudara semua, agar ke depan kita hilangkan inefisiensi di kementerian, baik pusat maupun daerah. Bikin optimal, kurangi overhead cost. kalau angka anggaran makin naik, maka yang diperbanyak bukan overhead cost-nya, tapi spending (belanja) untuk pengurangan kemiskinan, itu yang diutamakan," kata SBY.

"Kenaikan persentase dan angka nominal anggaran ini tidak akan efektif manakala desain, struktur, alokasi dan distribusi anggaran tidak tepat," tambah SBY.

SBY mengatakan, salah besar kenaikan anggaran diikuti dengan pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu. "Itu keliru. Justru yang boros, dirampingkan. Itu yang harus dilakukan oleh Pemda dan Pemerintah Pusat," pinta SBY.

Terkait dengan desentralisasi fiskal, SBY mengatakan sudah sepatutnya ke depan makin banyak anggaran dialirkan ke daerah. "Pastikan makin besarnya anggaran dikelola dengan tepat dan benar," ujar SBY.
(anw/dnl)detik.com

Bank Dunia: Krisis Utang Eropa Hambat Pemulihan Ekonomi Global



Nurul Qomariyah - detikFinance

Washington - Pemulihan ekonomi dunia terus menunjukkan kemajuan. Namun krisis utang Eropa telah menciptakan ganjalan terhadap gerak roda pertumbuhan ekonomi jangka menengah yang berkesinambungan.

Demikian disampaikan Bank Dunia dalam 'Global Economic Prospect 2010' yang dirilis, Kamis (10/6/2010).

Bank Dunia memrediksi perekonomian dunia akan mengalami ekspansi sebesar 2,9% pada 2010 dan 3,3% pada 2011. Angka itu terus meningkat menjadi sekitar 3,2% hingga 3,5% pada 2012. Pada tahun 2009, perekonomian global tercatat tumbuh 2,1%.

Negara-negara berkembang diprediksi tumbuh dengan kisaran 5,7% hingga 6,2% setiap tahunnya selama periode 2010-2012.

Negara-negara dengan pendapatan besar diprediksi akan tumbuh sekitar 2,1% hingga 2,3% pada 2010, atau lebih rendah dari tahun 2009 yang sebesar 3,3%. Pada tahun 2011, negara dengan pendapatan besar diprediksi hanya akan tumbuh 1,9% hingga 2,4%.

"Kinerja negara-negara berkembang yang lebih baik di tengah pertumbuhan dunia yang multipolar, cukup melegakan," ujar Justin Yifu Lin, Kepala Ekonom dan Senior Vice President Bank Dunia.

"Namun agar rebound itu terus berlangsung, negara-negara dengan pendapatan tinggi harus berhasil menggunakan kesempatan yang ditawarkan oleh negara-negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat," imbuhnya.

Pemulihan ekonomi global memang masih menghadapi tantangan dalam jangka menengah, termasuk berkurangnya aliran modal internasional, tingginya pengangguran dan kapasitas terluang yang melebihi 10% di beberapa negara.

Berdasarkan laporan tersebut, meski dampak dari krisis utang Eropa sejauh ini bisa diatasi, namun meningkatnya utang sovereign yang terus berlanjut dapat membuat kredit semakin mahal dan menghambat investasi sekaligus pertumbuhan di negara-negara berkembang.

Bank Dunia mencatat perdagangan dunia sudah mengalami rebound tajam dan diprediksi tumbuh 21% pada tahun ini, sebelum akhirnya bertumbuhan melandai menjadi 8% pada 2011-2012. Hampir setengah dari kenaikan permintaan global pada 2010-2012 berasal dari negara-negara berkembang.

Namun Bank Dunia mengingatkan, negara-negara berkembang kemungkinan tidak akan bisa menghindar dari dampak krisis utang di Eropa.

"Negara-negara berkembang tidak kebal dari efek krisis utang negara-negara berpendapatan tinggi. Namun kami perkirakan beberapa negara masih tetap baik jika mereka fokus pada strategi pertumbuhannya," ujar Andrew Burns, manager makroekonomi global Bank Dunia.

Bank Dunia juga mencatat beberapa negara berkembang masih akan menghadapi selisih pendanaan yang serius. Aliran modal swasta ke negara-negara berkembang diprediksi pulih dari US$ 454 miliar (2,7% dari PDB negara berkembang) pada tahun 2009 menjadi US$ 771 miliar (3,2% dari PDB). Angka ini masih jauh lebih rendah dibandingkan aliran modal pada tahun 2007 yang mendapai US$ 1,2 triliun (8,5%PDB).

Secara keseluruhan, kekurangan pendanaan di negara-negara berkembang diprediksi akan mencapai US$ 210 miliar pada 2010 dan turun menjadi US$ 180 miliar di 2011. Angka itu turun dibandingkan proyeksi kekurangan pendanaan di tahun 2009 sebesar US$ 352 miliar.

(qom/qom)

E-Banking Diklaim Lebih Aman dengan IPv6

Ardhi Suryadhi - detikinet

Ilustrasi (Ist.)
Jakarta - Kekhawatiran akan keamanan transaksi perbankan yang sempat menghantui para nasabah beberapa waktu lalu diklaim akan teratasi dengan penerapan protokol pengalamatan internet generasi baru (IPv6).

Sebab, menurut Plt Dirjen Postel Muhammad Budi Setiawan, IPv6 menawarkan fitur keamanan berupa mekanisme autentifikasi dan enkripsi untuk paket data yang ditransmisikan.

"Sehingga transaksi data finansial secara elektronik dapat lebih terjamin," tukas pria yang bisa disapa Iwan ini dalam Rakernas APJII 2010 dan IPv6 Summit yang berlangsung di Hotel Padma, Bali.

Belum lagi, lanjut Iwan, seandainya tiap-tiap pelanggan diberi alokasi alamat IP sebagai bagian dari personalisasi layanan.

IPv6 memang memiliki alokasi alamat IP yang jauh lebih banyak ketimbang Internet Protokol versi 4 (IPv4). 

Jika IPv4 memiliki sekitar 4 miliar alamat IP, maka IPv6 memiliki alamat IP yang diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga di tiap inci permukaan bumi.

"Layanan transaksi perbankan baru satu hal yang bisa diperkuat dengan IPv6. Intinya, kesempatan untuk berinovasi akan terbuka lebar saat IPv6 tuntas diterapkan," pungkas Iwan.
( ash / ash )

Tumpahan Minyak Memburuk, Saham BP Semakin Jatuh

Nurul Qomariyah - detikFinance .com

Foto: Reuters
New York - Tumpahan minyak di Teluk Meksiko tak kunjung ada solusi sehingga mengakibatkan saham perusahaan minyak, BP anjlok. Akibat penanganan tumpahan minyak yang memakan dana sangat besar, BP memutuskan untuk tidak membagikan dividen.

Saham perusahaan minyak asal Inggris, BP plc tercatat anjlok hingga 15,8% hingga terpuruk di bawah US$ 30 per lembar karena investor khawatir biaya penanganan masalah tumpahan minyak di Teluk Meksiko itu akan membengkak.

"Anda mendengar masalah yang tak kunjung reda dan ada suspensi pembagian dividen dari BP dan saya kira ini akan melemahkan pasar," ujar Nick Kalivas, analis senior MF Global seperti dikutip dari Reuters, Kamis (10/6/2010).

Pada perdagangan Rabu (9/6/2010), indeks Dow Jones ditutup melemah 40,73 poin (0,41%) ke level 9.899,25. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 6,31 poin (0,59%) ke level 1.055,69 dan Nasdaq melemah 11,72 poin (0,54%) ke level 2.158,85.

Pejabat dari BP mengatakan mereka memiliki dana tunai yang cukup untuk menangani krisis tumpahan minyak tersebut. Namun biaya untuk melindungi utang BP dari gagal bayar menembus titik tertingginya, yang menggambarkan kekhawatiran terhadap kemampuan BP untuk mengatasi kewajibannya.

Dengan penurunan harga saham yang terus menerus terjadi, kapitalisasi pasar BP sudah merosot hingga setengahnya sejak munculnya masalah tumpahan minyak pada April lalu. Pada 20 April, atau ketika terjadinya ledakan yang menyebabkan tumpahan minyak, saham BP berada di level US$ 60,48 per saham, namun pada Rabu kemarin ditutup pada level US$ 29,20.

"Beberapa jurnalis berspekulasi pada akhirnya BP tidak akan ada lagi, dan mereka akan mencari perlindungan kebangkrutan untuk menghindari tuntutan," ujar Gregori Volokhine, analis dari Meeschaert seperti dikutip dari AFP.

Saham energi lain ikut melemah seperti ExxonMobil yang turun 1,98%. Namun penurunan Dow Jones tertolong oleh kenaikan saham Caterpillar seesar 0,35%.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 10,53 miliar lembar saham, di bawah rata-rata tahun lalu yang mencapai 9,65 miliar.
(qom/qom)

IHSG Diramaikan Aksi Beli Selektif

Rekomendasi Saham Nurul Qomariyah - detikFinance

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup naik tipis di tengah bursa regional yang juga bergerak hati-hati. Investor memilih untuk menunggu sebelum melanjutkan perburuan saham-saham.

Pada penutupan perdagangan Rabu (9/6/2010) IHSG ditutup naik 5,810 poin atau setara dengan 0,21% ke level 2785,793. Sementara Indeks LQ45 juga naik tipis 0,125 poin (0,02%) ke level 538,618.

IHSG pada perdagangan Kamis (10/5/2010) tampaknya akan mulai diramaikan oleh aksi beli selektf. Investor mulai berani mengkoleksi lagi saham-saham di tengah bursa regional yang sudah mulai membaik setelah dihantam sentimen negatif krisis Eropa.

Bursa Wall Street sendiri memang kemarin masih ditutup negatif, namun lebih karena sentimen lokal akibat anjloknya saham BP seiring memburuknya masalah tumpahan minyak di Teluk Meksiko.

Pada perdagangan Rabu (9/6/2010), indeks Dow Jones ditutup melemah 40,73 poin (0,41%) ke level 9.899,25. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 6,31 poin (0,59%) ke level 1.055,69 dan Nasdaq melemah 11,72 poin (0,54%) ke level 2.158,85.

Sementara Bursa Jepang juga sudah mulai pulih. Indeks Nikkei-225 membuka perdagangan Kamis dengan kenaikan 59,67 poin (0,67%) ke level 9.498,80.

Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:

Panin Sekuritas:

Ditengah reboundnya bursa regional, IHSG berhasil ditutup menguat tipis pada perdagangan kemarin. Terlihat pula indeks masih belum mampu keluar dari pola konsolidasi untuk jangka pendek. Hari ini kami perkirakan IHSG masih akan bergerak fluktuatif dengan kisaran support-resistance 2.775-2.804. Saham consumer goods, pertambangan dapat menjadi pilihan untuk trading jangka pendek.

Samuel Sekuritas:

Dalam sentimen regional yang masih mixed antara kekhawatiran kondisi perekonomian Eropa dan perbaikan ekspor China, IHSG menguat tipis. IHSG masih berpeluang menguat tipis, masih dalam pola sideways dikisaran 2766-2820. Support berikutnya ada di 2720.

OSK Nusadana Securities Indonesia:

IHSG hari ini diperkirakan masih cenderung konsolidasi dengan perkiraan support terdekat antara di S2 dan S1 atau sekitar level 2,763.75 dan resistance di R2 (2,824.24)

Daily risk saat ini sekitar level 42.86 % sehingga masih memungkinkan untuk IHSG naik lagi dengan target diatas. Dari indikator MFI Optimized terjadi pembalikan arah sehingga diperkirakan target di R2 diatas juga dapat tercapai dalam waktu dekat.

(qom/qom)

Wednesday, June 9, 2010

Gas mulai langka

20100609110827_TIA---elpiji-langka-(1).gifSLEMAN: Gas elpiji ukuran 3 kg mulai langka di Jogja karena adanya rayonisasi dalam distribusi. Selain itu harga gas juga merangkak naik menembus Rp14.000 untuk tabung ukuran 3 kg di tingkat pengecer.

Pemberlakukan rayonisasi elpiji 3 kg dituding menjadi memicu kenaikan harga di tingkat eceran. Selain mewajibkan agen hanya boleh mendistribusikan elpiji di dalam rayon, pembatasan pasokan di sejumlah agen, pangkalan dan pengecer serta penertiban tata niaga gas berperan besar dalam kenaikan harga.

Pemilik pangkalan di depan Stasiun Lempuyangan, Edi, mengatakan adanya ketentuan yang melarang pedagang eceran membeli gas di agen secara tidak langsung menguntungkan dirinya, karena eceran wajib beli di pangkalan.

“Kalau dulu saat konversi minyak tanah ke gas, eceran bebas membeli gas ke agen, jadi harga di eceran dengan di pangkalan saling bersaing, tapi saat ini agen takut kasih ke eceran karena ada sanksinya,” katanya kepada Harian Jogja, Selasa (8/6).

Di sisi lain menurut Edi, larangan ini akan berdampak kenaikan harga elpiji. “Ya tadinya kan eceran dan pangkalan harganya bisa sama, tapi sekarang harga eceran pasti lebih tinggi dari pangkalan,” ujarnya.

Edi memperkirakan kenaikan harga berkisar antara Rp1.000-Rp2.000 per tabung. “Kalau dari agen saja sudah Rp12.000, lalu dari pangkalan bisa Rp13.000, ya sampai eceran pasti lebih tinggi lagi. Padahal saat ini normalnya di eceran cuma Rp13.500,” tuturnya.

Sementara itu pengelola agen elpiji PT Theruz Karya Sejahtera, Iwan, mengatakan pihaknya menerima saja keputusan Pertamina yang melakukan rayonisasi. “Ya kami sudah tahu hal ini sejak Maret lalu, jadi kami terima saja apapun keputusannya,” katanya.

Iwan mengatakan kenaikan harga itu pasti akan terjadi, namun bervariasi tergantung berapa pangkalan melepas ke eceran. “Ya pasti ada, tapi bervariasi tergantung masing-masing pangkalan ambil untung atas eceran,” paparnya.

Iwan mengatakan untuk agen miliknya, Pertamina memberikan batasan hanya 1.450 tabung per hari dan dirasa cukup untuk keadaan normal. Namun Iwan mengkhawatirkan apabila mendekati hari raya, seperti Lebaran atau Natal.

“Saya kurang tahu alokasi untuk hari raya, mungkin ada tambahan karena kalau sama dengan hari normal pasti kurang. Bisa juga berbentuk operasi pasar,” ungkapnya.

Dari pantauan Harian Jogja di sejumlah tempat, seperti Minggir, Sleman dan Bantul agen mulai membatasi distribusi elpiji. Mereka hanya memasok gas 3 kg antara 25%-50% dibanding hari-hari biasanya.
 
Sutarjimah, 57, pemilik Toko Lestari di Dusun Nyangkringan, Sendangrejo, Sleman mengatakan sejak adanya kebijakan rayonisasi gas elpiji, pedagang hanya dipasok 25% tabung gas elpiji dari biasanya. Biasanya dia mendapat jatah 200 tabung, tapi sekarang hanya disetori 40 tabung.

“Akibatnya banyak pengecer yang tidak mendapat jatah. Mereka juga hanya bisa membeli 4-5 tabung dari saya,” kata Sutarjimah.

Parwati, 36, pemilik pangkalan gas elpiji di Sendangrejo, Minggir mengaku pasokan gas elpiji juga dibatasi. Biasanya dia dipasok sebanyak 200 tabung gas, sekarang hanya dipasok 100 tabung gas, yang dipasok oleh PT Lentera Putera Sejahtera.

“Kasihan bakul-bakul kecil mereka hanya mendapat paling banyak 5 tabung gas karena yang membeli di saya sehari sampai 100 tabung gas,” kata dia.

Di tingkat pengecer, harga gas elpiji 3 kg saat ini menembus Rp14.000 per tabung. Padahal sebelumnya pengecer ada yang menjual hanya Rp12.750 per tabung. Alasannya, agen menaikkan biaya operasional pengiriman Rp500 per tabung.

Sukardi, 52, warga Morangan, Sleman, ketika ditemui di warungnya Jalan Magelang KM 13 mengatakan Senin (7/6) dia masih menjual Rp13.500 per tabung. “Karena tadi pihak agen (PT Expra Baru) menaikkan Rp500 pertabung, sekarang dijual Rp14.000,” jelasnya.

Disinggung alasan agen menaikkan harga, Sukardi menyatakan, kenaikan dipicu naiknya biaya operasional. “Ongkos tenaga angkutnya naik, jadi barangnya ikut naik,” kata dia.

Wati, 49, penjual angkringan yang menggunakan gas elpiji di Jalan Magelang justru resah jika harga elpiji 3kg naik. Alasannya, beban hidup masyarakat akan semakin susah.

Di Bantul, Rina Damaryanti, pengelola pangkalan gas elpiji Bantul Jaya mengatakan agen hanya memasok 50% gas elpiji ukuran 3 kg ke pangkalan. Dari kebutuhan 400 tabung gas, agen hanya mengirim 200 tabung. Akibatnya, stok gas elpiji sejak dua hari lalu tersendat.

“Pengisian gas elpiji 3 kg dari agen terlambat sejak dua hari lalu. Kami kekurangan stok,” ujarnya di Toko Bantul Jaya, Selasa (8/6).

Mayoritas pelanggan memilih tabung gas elpiji 3 kg dengan harga yang lebih terjangkau. Mereka berasal dari pengecer, peternak ayam, rumah makan, dan toko. “Kebutuhan pengecer biasanya hingga puluhan tabung gas. Sedangkan peternak ayam bisa mencapai 50 tabung per hari,” kata dia.

Pangkalan yang ada di Bantul, lanjut dia selama ini mendapat pasokan gas elpiji dari Agen yang berada di sekitar Perempatan Manding. Di Bantul, dari kebutuhan 11.000 tabung gas pascarayonisasi hanya dipasok sebesar 1.500 tabung.  (TIA/HAR/SIM/DAS)

Oleh Wisnu Wardhana
HARIAN JOGJA

Tuesday, June 8, 2010

Tokek, Dulu Dibenci, Kini Dicari

Tokek peliharaan Suradi (Foto:Tulus DS)
KARANGMOJO (KRjogja.com) - Siapa tak mengenal tokek atau tekek karena binatang ini tengah naik daun. Ibaratnya, dulu banyak orang yang membenci bahkan ingin membunuh ketika mendengar suaranya, kini dicintai karena nilai ekonomisnya sangat tinggi.

Hal ini yang ada dibenak Suradi (55), penduduk Ngawis, Karangmojo Gunungkidul. Bisa dikatakan memiliki pekerjaan baru setelah menggarap pertanian di ladang. Setiap malam berkeliling dusun berbutu tokek yang biasanya berada di pohon besar, kuburan hingga rumah penduduk. Kendati belum bisa menjadi 'mesin' penghasil uang, namun tetap percaya reptil ini bakal mendulang pundi-pundi karena telur yang menetas terus menerus.

Sekitar lima kandang dibangun untuk membangun peternakan sederhana ini. Kandang dilengkapi sarang tokek yang terbuat dari bambu, pralon dan dibuatkan belahan dinding. Di tempat itu, tekek bisa berkembang biak.

Saat ini tokek yang dimiliki mencapai 400 ekon meski cukup diberi makan jangkrik. Ada juga yang meminati binatang ini dengan iming-iming uang tunai sebesar Rp 6juta yang berbobot Rp 6 juta. Namun, tawaran itu tak lantas membuatnya kalap sembari berharap bobotnya terus naik sejalan dengan besarnya pundi rupiah yang akan diraih.

Diakui oleh Suradi binatang Tekek oleh orang tuanya dulu, dapat digunakan untuk obat gatal-gatal.  (Tulus.Ds)

Monday, June 7, 2010

Awas, amankan investasi Anda!

2010060793249_investment.gifDalam kegiatan investasi tak hanya melekat risiko rugi investasi (loss) saja, tapi juga melekat risiko penipuan jika investasi dilakukan secara sembrono. Banyak kasus penipuan berkedok investasi menimpa masyarakat investor.

Contoh yang paling heboh, kasus Bank Century misalnya. Ribuan nasabah menjadi korban dari produk bodong yang mengatasnamakan Antaboga Ssekuritas. Bahkan triliunan rupiah uang negara terindikasi ikut raib entah ke mana. Kasusnya pun kini terus berjalan meski kian pelan.

Kasus tersebut seharusnya menjadi pengingat bagi masyarakat. Di mana pun investasi, semenarik apapun peluang investasi ditawarkan, calon investor harus hati-hati dan jeli dalam bertindak. Lihat manfaatnya, hitung biayanya, dan kenali risikonya, adalah slogan yang perlu diingat setiap calon investor.

Mengatasi maraknya kasus penipuan berkedon investasi, pemerintah sejak 2007 silam telah membentuk Satuan Tugas Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum di Bidang Pengelolaan Investasi. Anggotanya terdiri dari Kepolisian Republik Indonesia , Kementerian Koperasi dan UKM, Bank Indonesia, PPATK, serta Bapepam LK (Badan Pengawan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan).

“Tidak ada investasi di pasar modal yang menjanjikan manfaat pasti, sebab underlying yang dibeli investor harganya terus bergerak,” ujar anggota satgas dari Bapepam LK, Luthfy Zain Fuady. Pasar modal dengan segala produk yang derivatifnya, memang menjadi sering menjadi wahana yang rentan terhadap kegiatan ilegal yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab.

Apalagi jika investor memilih untuk menggunakan jasa pihak ke tiga dalam transaksi investasinya. Di pasar modal hanya ada tiga lembaga pihak ke tiga yakni, broker (sekuritas), manajer investasi dan penjamin emisi efek. Masing-masing berperan sesuai fungsi dan wewenangnya sesuai dengan izin yang diberikan.

Broker misalnya, hanya bisa melayani jual beli efek, tidak untuk memperjualbelikan produk investasi lain di luar itu. Berbeda dengan manajer investasi yang memang bertugas mengelola investasi kolektif di pasar modal, dan bisa diinvestasikan ke portofolio lain selain efek.
Dan sekali lagi, tidak ada keuntungan pasti. Karena lembaga tersebut hanya bertugas menyediakan layanan investasi dan tidak untuk menyimpan dana nasabah. Dana investasi nasabah disimpan di lembaga yang dikenal sebagai bank custodian. Mengetahui kejelasan izin usaha, portofolio apa yang dijanjikan serta tidak tergiur begitu saja dengan manfaat pasti, wajib dilakukan calon investor.

Sektor perbankan pun tak luput dari tindakan-tindakan illegal mengatasnamakan investasi. Setiap lembaga perbankan wajib memberikan informasi yang jelas bagi nasabahnya, terkait layanan yang disediakan. “Izin nya harus dari Bank Indonesia. Bank juga diwajibkan menerapkan prinsip kehati-hatian,” terang Anggota Satgas dari unsur Bank Indonesia Achmad Murad.

Bank Indonesia juga telah menyediakan regulasi terkait prinsip kehati-hatian tersebut, seperti PBI No 11/26/PBI/2009 tentang prinsip kehati-hatian dalam melaksanakan kegiatan structured product bagi bank umum. Ada lagi PBI No 7/6/2005 tentang transparansi informasi produk bank, serta beberapa regulasi lain.

Ancaman hukuman pelaku kejahatan investasi sebenarnya juga tak ringan. Tindak pidana di bidang perbankan diancam pidana minimal lima tahun maksimal 15 tahun dan denda minimal Rp10 miliar maksimal Rp200 miliar (Pasal 46 ayat 1,2 UU 10/1998).
Tindakan pencucian uang dipidana penjara minimal lima tahun, maksimal 15 tahun dan denda minimal Rp100 juta, maksimal Rp15 miliar (Pasal 3 UU 15/2002 sebagaimana diubah dengan UU 25/2003). Tindak pidana penipuan atau penggelapan juga diancam hukuman berat, pidana penjara maksimal lima tahun (Pasal 378 atau 372 KUHP).

Banyaknya regulasi dan ancaman pidana tersebut memang belum menjadi jaminan kegiatan melanggar hukum tersebut akan hilang. Selain pengawasan yang baik, kesadaran calon investor untuk senantiasa berhati-hati dan cermat juga dibutuhkan. Tawaran akan selalu datang menggiurkan, namun sudah sepantasnya kita berhati-hati dalam mengamankan investasi kita.
Oleh Galih Kurniawan
WARTAWAN HARIAN JOGJA